Cukai Emisi Memiliki Potensi yang Dapat Mengganggu Penjualan Motor

Kasus PositifMeninggal DuniaSembuh
Indonesia5794930
Seluruh Dunia341,52614,74899,040
Data per 23 Maret 2020 pukul 15.45 WIB. Sumber: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, WHO.

Cukai Emisi Memiliki Potensi yang Dapat Mengganggu Penjualan Motor

Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia( AISI) menegaskan pemerintah terpaut dampak negatif pelaksanaan cukai emisi kendaraan bermotor. Pengenaan cukai emisi tadinya telah diusulkan Menteri Keuangan Sri Mulyani ke DPR.

Divisi Humas AISI Ahmad Muhibbuddin berkata cukai emisi bisa membuat industri motor tersendat. Volume penjualan diprediksi bakal mengecil.

” Tetapi kami memandang ini hendak memberatkan konsumen serta membuat market sepeda motor terus menjadi menyusut bila diberlakukan. Dampaknya industri pula hendak terus menjadi mengecil serta tidak berkembang,” kata Muhibbuddin lewat pesan pendek, Jumat( 21/ 2).

Dia berkata industri roda 2 berpotensi kehabisan pasar, karena tarif cukai emisi bakal dibebankan ke konsumen. Sedangkan konsumen motor Indonesia diucap sangat sensitif terhadap peningkatan harga.

” Harga sepeda motor berpotensi naik serta pasti memberatkan sebab konsumen sepeda motor sangat sensitif dengan peningkatan harga, berapapun itu kenaikannya,” ucap ia.

Bagi Muhibbuddin, motor penciptaan lokal yang dijual di Indonesia telah menjajaki syarat yang berlaku. Teknologi yang diterapkan dikatakan telah membiasakan standar gas buang, ialah Euro 3.

” Serta yang terutama, motor itu kan bukan seluruhnya produk konsumtif. Sebagian besar pemiliknya, menjadikan motor bagaikan fasilitas produktif buat bekerja mencari nafkah,” katanya.

Muhibbuddin meningkatkan pemerintah hendaknya mengkaji kembali rencana tersebut.

” Kami berharap pemerintah mengkaji kembali secara komprehensif akibatnya terhadap industri sepeda motor serta industri lain yg berkorelasi semacam komponen, pembiayaan serta yang lain yang berpotensi timbul bila rencana ini diberlakukan. Industri sepeda motor ini memiliki rantai bisnis yang luas baik di sisi hulu ataupun hilir,” kata Muhibbuddin.

Departemen Keuangan tadinya beralasan cukai emisi bersumber pada gas buang bakal diterapkan sebab CO2 yang keluar dari knalpot kendaraan merugikan alam serta warga. Dari pengenaan cukai tersebut, Sri Mulyani pula bilang terdapat kemampuan penerimaan negeri sebesar Rp15, 7 triliun.

Tadinya asosiasi industri mobil, Gaikindo, menarangkan lagi menekuni cukai emisi usulan Sri Mulyani. Pimpinan Gaikindo Yohannes Nangoi bilang grupnya menunggu ketentuan teknis terpaut perihal tersebut, tidak hanya itu pula menyinggung soal bahan bakar yang ada di dalam negara.

Bagi Nangoi, emisi kendaraan pula dipengaruhi mutu bahan bakar. Kata ia malah yang sepatutnya dikenakan cukai emisi merupakan bahan bakar, bukan kendaraan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *