Curhat Wiranto tentang kerusuhan 22 Mei saat Kompolnas Silaturahmi

Menteri Politik, Hukum, dan Keamanan (Polhukam) Wiranto dilaporkan berbicara tentang kerusuhan pada 22 Mei ketika ia bertemu dengan lima anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) di kantornya pada Jumat (14/6).

Komisaris Polisi Nasional, Inspektur Jenderal (Pensiunan) Bekto Suprapto, dan empat rekannya bertemu dengan Wiranto, yang juga presiden Kompolnas, untuk tetap berhubungan setelah Idul Fitri.

Meskipun mengakui dia tidak membahas masalah-masalah negara, Bekto mengatakan pertemuannya dengan Wiranto membahas kerusuhan pada 22 Mei, dipicu oleh demonstrasi menentang hasil rekapitulasi pemilihan presiden 2019. .

“Belum lama ini, dia mengatakan kepada saya bahwa (kerusuhan 22 Mei) saat itu adalah masa kritis tetapi mereka bisa saja berlalu. Terima kasih sudah lewat,” kata Bekto kepada pers setelah bertemu dengan Wiranto.

Pada kesempatan ini, Kompolnas juga mengomentari tindakan polisi nasional selama penindasan kerusuhan.

Menurut Bekto, prosedur yang diikuti oleh polisi nasional untuk menangani kasus-kasus ini masih “sesuai dengan arahan”.

Bekto membuat pernyataan berikut komentar dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (HAM) tentang tuduhan tindakan sewenang-wenang oleh petugas polisi dalam mengamankan kerusuhan 22 Mei. Karena sembilan orang terbunuh dalam kerusuhan itu.

“Polisi turun tangan, mereka bukan pengunjuk rasa, mereka perusuh, Kompolnas selalu melihat penyelidikan (polisi) sesuai dengan aturan, dengan tanda-tanda berdasarkan Konstitusi, peraturan pemerintah dan peraturan pemerintah polisi, “kata Bekto.

Sebagai badan pengawas polisi, Bekto mengatakan bahwa sejauh ini partainya belum menerima keluhan publik tentang langkah-langkah keamanan yang diambil oleh polisi nasional selama kerusuhan.

Belum ada laporan pelanggaran HAM oleh anggota polisi, menurut kekhawatiran banyak pihak.

“Tahun itu, kami menerima sekitar 4.000 pengaduan, baik melalui pos atau langsung.” Untuk kerusuhan ini (22 Mei), tidak satu pun dari mereka dilaporkan ke Kompolnas, “kata Bekto. (rds / wis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *