Dua Beban Berat di Pundak AHY

Susilo Bambang Yudhoyono harus absen mengawal Partai Demokrat menghadapi persaingan di ajang Pemilu Serentak 2019. SBY harus menghabiskan waktu, pikiran dan tenaga menemani sang istri Ani Yudhoyono melawan kanker darah di National University Hospital Singapura.

Bak sebuah perahu, Demokrat harus punya nakhoda baru mengarungi Pemilu. Nama yang didapuk menjadi nakhoda pengganti adalah putra sulung SBY, Agus Harimurti Yudhoyono. Keputusan itu diambil lewat rapat internal Demokrat di Singapura beberapa waktu lalu.

Tugas berat menanti AHY. Dia bukan pejabat teras Demokrat. Namanya pun terbilang baru di pencaturan politik nasional. Tapi posisinya sebagai Komando Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat cukup strategis membawa bendera partai berlambang bintang mercy berjaya di Pileg.

AHY punya tugas tak kalah berat berkontribusi memenangkan Prabowo Subianto- Sandiaga Uno di Pilpres. Ya, Demokrat menjadi bagian Koalisi Adil Makmur mengusung paslon 02 bersama Gerindra, PKS dan PAN.

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hasan meyakini AHY mampu mengemban mandat dari SBY. AHY, menurut dia, sebenarnya hanya tinggal menjalankan kebijakan dan SOP pemenangan yang sudah dirumuskan SBY dan DPP.

“Jadi sebelum dipegang sudah jalan sesuai dengan kebijakan Pak SBY dan DPP. Jadi semua kebijakan sudah mulai berjalan. Nah tadinya kan dipegang langsung Pak SBY, Pak SBY enggak ada ditugaskan ke Mas Agus,” kata Syarief saat berbincang dengan merdeka.com, Kamis (14/3).

AHY langsung bergerak. Sebagai langkah permulaan, kata Syarief, AHY mengumpulkan seluruh jajaran pengurus DPD Demokrat. Dia memonitor, menanyakan perkembangan sekaligus memetakan masalah pemenangan partai di daerah-daerah. Pertemuan digelar sekitar seminggu lalu.

“Sekarang Mas AHY tinggal memonitor masalah dan membantu daerah-daerah yang perlu dibantu. Jadi tidak ada masalah,” ujarnya.

DPP tak masalah SBY memberikan tongkat komando pemenangan Pemilu 2019 kepada AHY. Figur AHY diyakini memperkuat figur SBY bagi pendukung dan mencuri suara swing voters. Harapannya, elektoral Demokrat terangkat dengan kehadiran AHY.

Syarief mengklaim, AHY efek tak kalah dari sang ayah SBY. Secara kualitas, AHY sudah memiliki modal, muda, karismatik dan visioner mendongkrak suara partai.

“Pak SBY tidak perubahan, adanya Mas AHY malah memperkuat. Jadi tidak ada masalah, mudah-mudahan lebih terangkat tadinya kalau kekuatan Pak SBY tambah sama mas AHY, tambah kuat, malah lebih bagus,” klaim Syarief.

Dengan adanya AHY, Demokrat berharap dapat menarik ceruk pemilih milenial. Sebab, jumlah suara suara pemilih milenial cukup signifikan. Dalam Daftar Pemilih Tetap KPU proporsi pemilih milenial sekitar 34,2 persen dari total 152 juta pemilih.

“Yang jelas itu anak muda pasti bangga punya contoh, punya representasi anak-anak muda, di partai lain tidak ada seperti mas AHY,” ungkapnya.

“Ceruk pemilih muda bisa jadi daya tarik. 100 juta lebih. Kita harapkan bisa terdongkrak suara Demokrat lewat Mas AHY,” sambung Anggota Komisi I DPR ini.

Berbagi tugas dengan Ibas

Juru pemenangan Demokrat tak hanya dibebankan ke AHY seorang. Putra bungsu SBY dan Ani, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) ikut mendapat tugas. Ibas memang sejak awal menjadi Ketua Komisi Pemenangan Pemilu (KPP) atau yang akrab disebut Bappilu.

Saat ini, Ibas juga menjabat ketua fraksi Partai Demokrat di DPR. Dia diminta juga mengatur kampanye 61 anggota DPR dari Demokrat plus kader-kader yang menjadi kepala daerah. Nantinya, Ibas akan berkoordinasi dengan sang kakak terkait tugas pemenangan.

“Mas Ibas kan disamping sebagai Ketua fraksi Demokrat, Komite Pemenangan Pemilu. Jadi di sini dia Pilkada sebelumnya menjadi trangung jawab dia. Mengkoordinasikan kepala daerah, anggota DPR, anggota DPRD Kota, Kabupaten, Provinsi di bawah komando Mas Ibas,” terangnya.

Di luar nama AHY dan Ibas, SBY menugaskan dua orang kepercayaan sebagai penanggung jawab pemenangan. Dia adalah mantan Gubernur Jawa Timur, Soekarwo dan Ketua DPD Demokrat DKI Nachrawi Ramli (Nara). Soekarwo menjadi koordinator kampanye wilayah Timur, dan Nara menjadi koordinator wilayah barat. Keduanya berada di bawah langsung komando AHY.

Wilayah timur meliputi Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Gorontalo, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

Sedangkan wilayah barat meliputi Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, Lampung, Kep. Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Bengkulu, Jambi, Kepulauan Riau, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.

Strategi Rel Ganda

Untuk memenangkan Prabowo-Sandiaga, AHY dan Demokrat ternyata telah menyiapkan strategi. Strategi kampanye itu telah disampaikan AHY kepada Prabowo malam ini. Strategi ini dilakukan untuk dapat memenangkan Prabowo-Sandiaga dan juga Partai Demokrat.

“Strategi rel ganda dimana secara paralel kami berjuang agar Partai Demokrat dalam pemilihan legislatif juga bisa sukses tetap sukses karena kami ingin punya wakil-wakil rakyat yang kompeten di parlemen nanti untuk bisa memberikan support secara penuh kepada pak Prabowo dan pemerintahan mendatang,” ujar AHY di rumah Prabowo, Jalan Kertanegara, Jakarta.

“Tapi track kedua tentunya untuk menyukseskan pilpres tentunya dalam koalisi yang mengusung Prabowo-Sandiaga,” tambahnya.

Sementara itu, Pengamat Politik Muradi memprediksi akan sulit bagi AHY mengatrol suara Demokrat di Pemilu 2019. Salah satu faktornya adalah AHY belum bisa membangun konsolidasi di internal Demokrat. Padahal, menurutnya, sukses tidaknya Demokrat di Pemilu dipengaruhi seberapa solid konsolidasi internalnya.

“Dia masih muda tidak bisa mengambil kebijakan politik sendiri serta tidak berpengalaman. Jangan lupa pemenangan itu bergantung pada seberapa efektif konsolidasi internal. Kalau di konsolidasi internal tidak terlalu baik pemenangan politik bermasalah,” paparnya.

Muradi menyebut terlalu dini AHY diberi tanggung jawab pemenangan untuk partai sekelas Demokrat. Dia berujar SBY seharusnya memberikan mandat pemenangan pemilu kepada kader-kader senior. Tujuannya membangun konsolidasi dan menguatkan lingkaran partai.

“SBY kalau bijak kan ada Sekjen, ada Waketum, ada ketua-ketua yang dihormati. Pakde Karwo bisa dimanfaatkan untuk konsolidasi internal. AHY enggak ada masalah itu harus dilibatkan. Kenapa harus dipaksakan AHY. Kan bisa didampingi Pakde Karwo, Sekjen,” tandas dia.

Sumber: Merdeka.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *