Jangan Lagi Derby Della Madonnina Membosankan

Duel Derby Milan dalam beberapa tahun terakhir terbilang menjemukan. Diharapkan, bentrokan kali ini bisa lebih eksplosif dengan suguhan banyak gol.

Duel prestisius di jagat sepakbola Italia tersaji akhir pekan ini dalam tajuk Derby Della Madonnina.

Bagaimana pun kondisi AC Milan dan Inter Milan yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi pesakitan di kancah Serie A Italia, menyaksikan dahsyatnya hegemoni Juventus, duo sekota ini tetap layak disebut sebagai raksasanya kompetisi Negeri Pizza.

Layaknya dua tim raksasa ketika berjumpa, tentu saja harapan Milanisti dan Interisti, barangkali Anda pecinta Serie A Italia juga menginginkan bentrokan Derby Milan ini dapat berjalan eksplosif, seru, atraktif dan entertaining.

Namun, ada fakta menarik menjelang laga Derby Milan edisi ke-223 ini, yakni berkenaan dengan produktivitas gol dari kedua tim kala bertarung di lapangan, setidaknya bila menilik head-to-head di antara mereka dalam tujuh tahun terakhir.

Sejak musim 2011/12, kala Inter mampu menghajar Milan dengan skor masif, 4-2, Derby Della Madonnina tak lebih dari sekadar partai yang menjemukan.
Fans Juventus bilang, duel Milan-Inter di masa terkini bak pertandingan medioker. Tak hiperbolis, karena kita memang tengah mendapati laga Derby Milan yang seret gol.

Sumber: Goal.com

Dimulai dari musim 2012/13, berturut-turut hingga paruh pertama musim 2015/16, laga Derby Della Madonnina bergulir sembilan kali di berbagai ajang, tetapi sebagian besar berakhir dengan skor minimalis, 1-0. Paling banter bermain imbang 1-1, namun itu pun hanya terjadi dua kali dalam rentang periode tersebut.

Derby Milan sempat mempertontonkan pertarungan impresif, namun itu pun hanya dalam kurun setahun delapan bulan. Milan pernah melibas Inter dengan skor meyakinkan 3-0 di musim 2015/16, lalu bermain imbang 2-2 di pertemuan pertama musim 2016/17.

Tren mencetak lebih dari dua gol atau lebih berlanjut di paruh kedua musim 2016/17 ketika Inter menahan Milan dua sama, sebelum di awal musim 2017/18 Nerazzurri memetik kemenangan tipis 3-2 atas Rossoneri.

Tepatnya Oktober 2017 kali terakhir kedua tim bisa menggelontor hingga lima gol. Setelah itu, tren seret gol kembali melanda. Dalam tiga bentrokan terakhir di seluruh kompetisi, Derby Milan kembali diwarnai dengan skor 1-0, bahkan 0-0.

Lebih memprihatinkan lagi ketika Milan bertemu Inter di Coppa Italia pada Desember 2017 lalu, di mana tim pertama mesti mengalahkan tim kedua lewat babak extra-time. Berapa skor akhirnya? Ya, cuma 1-0!

Rasanya sudah terlalu usang andai kita membuka kembali arsip sejarah kedua tim saat memainkan Derby Della Madonnina yang berjalan begitu menggelora dan berdebar, yang di ujung pertandingan papan skor menunjukkan angka 6-5 untuk kemenangan Inter di tahun 1949.

Nyatanya, pertandingan yang digadang-gadang sarat gengsi, penuh emosi, spirit membumbung tinggi, diliputi intensitas serta tensi yang besar, hanya menyuguhkan permainan yang membosankan akhir-akhir ini.

Ketegangan, nuansa harap-harap cemas, saling balas sorak sorai antarsuporter ketika tim idola mencetak gol, tidak lagi kita temui karena Derby Milan tak seeksplosif ketika keduanya mencapai era keemasannya.

Bila mundur ke era awal 2000-sampai akhir, betapa memikatnya ketika menyaksikan Milan mengukir kemenangan terbesar sepanjang sejarah menghadapi Inter dengan skor bombastis, 6-0! Andry Shevchenko, mantan pemain terbaik dunia, tampil heroik dengan torehan brace-nya.

Atau di kala romantisme treble winners-nya Inter polesan Jose Mourinho pada musim 2009/10, yang diwarnai dengan kemenangan historis tim atas Milan, yakni 4-0.

Era 2000-an memang mengasyikkan. Perang bintang bertabur kualitas di antara kedua tim sangat kental terasa. Di kubu Milan diisi pemain-pemain legendaris macam Jap Stam, Alessandro Nesta, Kaka, Andrea Pirlo, Filippo Inzaghi, Shevchenko, sementara di pihak seberang diperkuat para legenda Serie A macam Javier Zanetti, Marco Materazzi, Fabio Cannavaro, Dejan Stankovic, Adriano, Zlatan Ibrahimovic.

Skor-skor yang tersaji selepas Derby Milan pun selalu membekas di benak para loyalis kedua tim karena tak jarang tercipta lebih dari dua, tiga, empat bahkan lima gol di masa-masa itu.

Namun, bukannya menyangsikan kualitas skuat Inter dan Milan di era sekarang. Hanya saja, para penggila duo Milan butuh hiburan konkret untuk partai sekelas derby. Mereka rindu menyaksikan para performer bermain agresif, determinan, berani dan ngotot untuk lebih dari sekadar meraih kemenangan, tetapi memainkan sepakbola nan indah.

Bukankah keseruan menyaksikan sebuah pertandingan sepakbola ketika kedua tim bermain militan dengan saling jual-beli serangan hingga yang tersisa hanyalah upaya untuk saling balas-membalas, kejar-mengejar skor?

Toh Milan sekarang punya mesin gol baru pada diri Krzystof Piatek. Lini kedua mereka juga diperkuat pemain berbakat dalam diri Lucas Paqueta.
Sementara Inter mulai melupakan Mauro Icardi karena prahara kontrak dirinya yang direcoki drama sang istri Wanda Nara, skuat Luciano Spalletti mulai bisa mengandalkan duo Lautaro Martinez dan Matteo Politano, yang dalam beberapa partai terakhir mulai menunjukkan gebrakannya.

Dengan kualitas materi pemain di atas, seharusnya Derby Milan edisi ke-223 mulai bisa memperlihatkan permainan yang lebih eksplosif dan menjanjikan.
Pertaruhan duo Milan musim ini juga terbilang cukup genting, yaitu posisi empat besar. Ingat, AS Roma mengintai di posisi kelima klasemen. Dengan jarak yang cukup berdekatan di antara ketiga tim ini, Milan dan Inter jelas membawa misi wajib menang.

Namun sekali lagi, Milanisti dan Interisti, juga para pecandu Serie A, bakal menaruh harapan agar Derby Della Madonnina tak lagi berjalan monoton dan menghasilkan banyak gol.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *