Kepentingan Gerindra di Balik Pemulangan Rizieq Shihab

Kepentingan Gerindra di Balik Pemulangan Rizieq Shihab

Nama pemimpin Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab, muncul kembali di tengah rencana rekonsiliasi setelah pemilihan presiden 2019. Kamp Subianto di Prabowo mengusulkan sejumlah syarat, salah satunya adalah terkait dengan kembalinya Rizieq ke Indonesia di bawah Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Rizieq telah tinggal di Arab Saudi selama lebih dari dua tahun setelah polisi menjebaknya dalam beberapa kasus pengadilan. Pada akhir April 2017, ia pergi ke Umrah atau seminggu sebelum dikutip karena diduga konten porno dengan Firza Husein.

Sejak itu, Rizieq belum kembali ke Indonesia, meskipun kasusnya dihentikan oleh kepolisian daerah Metro Jaya.

Selain tuduhan konten porno, Rizieq juga disebut sebagai tersangka dalam tuduhan penghinaan oleh Pancasila oleh Kepolisian Daerah Jawa Barat. Kasus ini juga dihentikan oleh polisi awal tahun lalu.

Di Saudi, Rizieq terus memobilisasi massa dalam pemilihan presiden 2019. Dia berpartisipasi dalam desain Ulama Ijtak, yang mendukung pasangan nomor 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Sementara itu, Prabowo juga berjanji akan membawa pulang Rizieq jika dia terpilih sebagai presiden.

Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani menyebut pemulangan Rizieq jadi salah satu syarat rekonsiliasi dengan kubu Jokowi.

“Pada Ijtak kedua, saya mengatakan bahwa begitu saya menang, saya akan kembali Habib Rizieq Shihab lagi, saya akan mengirim pesawat saya sendiri untuk mendapatkannya kembali,” kata Prabowo pada Februari 2019.

Prabowo kemudian kalah dalam pemilihan presiden tahun 2019. Sekretaris Jenderal Gerindra, Ahmad Muzani, juga mengakui bahwa pemulangan Rizieq adalah salah satu syarat rekonsiliasi.

André Rosiade, anggota Badan Komunikasi Partai Gerindra, mengatakan kondisi untuk memulangkan Rizieq adalah tanggung jawab moral Prabowo dan Gerindra kepada para pendukungnya.

“Ini adalah bagian dari tanggung jawab moral Pak Prabowo dan partai Gerindra terhadap semua pendukungnya yang telah membela,” kata Andre kepada CNNIndonesia.com.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan bahwa Rizieq memilih untuk pergi ke Arab Saudi, bukan karena ia diusir oleh pemerintah.

“Siapa yang pergi, siapa yang pulang, mengapa kamu melakukan sendiri, apa yang kamu lakukan, apa yang kamu lakukan, kita adalah orang-orang yang mengusir, itu saja,” kata Moeldoko kepada Istana Presiden di Bogor, Jawa Barat, Selasa (9/7).

Syarat Pemulangan Rizieq: 'Entertain' Kubu 212 dan Modal 2024

Direktur Penelitian dan Penasihat Saiful Mujani (SMRC), Sirojuddin Abbas, mengatakan kondisi untuk kembalinya Rizieq hanyalah retorika Gerindra. Menurutnya, Gerindra memimpin kelompok pendukungnya yang terdiri dari 212 alumni dan FPI. Meskipun persyaratannya tidak terkait langsung dengan rekonsiliasi.

“Hanya retorika, retorika untuk menghibur grup-grup dari 212 dan FPI sehingga Gerindra dianggap sebagai bek mereka,” katanya dalam percakapan dengan Detikmania.com, Rabu (10/7).

“Jika itu terjadi, tampaknya Gerindra berharap mendapatkan argumen politik dari kelompok 212 dan FPI,” katanya.

Menurut Abbas, pengajuan persyaratan ini juga tidak terlepas dari upaya Gerindra untuk melestarikan pangkalan besar kelompok-kelompok Islam, khususnya pendukung Rizieq, anggota 212 kelompok dan mantan alumni FPI.

Dia mengatakan Gerindra tidak ingin kehilangan sejumlah besar pendukung di antara pendukung Rizieq. “Ya, itu hanya bunga,” kata Abbas.

Namun, kata Abbas, kondisi kamp Prabowo tidak memiliki daya tawar politik. Alasannya, Mahkamah Konstitusi (MK) menolak sengketa Pilpres 2019 yang dihadirkan Prabowo-Sandi.

Apakah kondisi terpenuhi atau tidak, lanjutnya, tidak akan berdampak pada legitimasi pemerintah Jokowi selama periode kedua dengan Ma’ruf Amin. Menurutnya, Prabowo dan Gerindra saat ini tidak memiliki posisi tawar terhadap pemerintah.

“Apakah Grup Prabowo masih memiliki nilai negosiasi di sana, menurut saya sudah tidak ada nilai negosiasi lagi,” katanya.

Direktur Program SMRC Sirojuddin Abbas.

Modal 2024

Pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah di Jakarta, Ahmad Bakir Iksan, mengatakan kondisi Gerindra terkait dengan kepentingan pemilu 2024.

Menurut Bakir, Gerindra menyadari bahwa Rizieq adalah panutan bagi kelompok tertentu. Kelompok pecinta Rizieq ini juga ingin dikelola untuk

kepentingan politik jangka panjang.

“Habib Rizieq masih menjadi ikon bagi mereka sebagai gerakan yang dianggap” sukses “dalam gerakan yang berdampak pada politik di negara ini,” kata Bakir.

“Dengan kembalinya, Habib Rizieq dapat menjadi modal. Tentu saja, Gerindra dapat menjadi modal untuk memobilisasi berbagai sumber daya untuk kepentingan Gerindra, terutama pada 2024,” katanya.

Dia juga memperkirakan bahwa pemerintah tidak akan mengabulkan syarat tersebut. Selain itu, situasi masyarakat saat ini masih terbagi setelah pemilihan presiden 2019. Hal ini ditunjukkan oleh pernyataan Moeldoko.

“Mungkin saja pemerintah merasa” prihatin “dengan kehadiran Habib Rizieq, katanya.

“Karena itu, sangat mungkin bahwa pemerintah tidak akan segera memenuhi persyaratan untuk negosiasi ini,” kata Bakir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *