Nilai jual Rupiah menguat ke Rp14.328 Per Dollar Amerika Serikat

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.328 untuk satu dolar AS di pasar spot Selasa (18/6) sore. Akibatnya, rupee naik 0,06 persen dari penutupan Senin (17 Juni), yang berdiri di 14.336 rupee terhadap dolar.

Pada saat yang sama, nilai tukar Bank Indonesia Jakarta Interbank Dollar (JISDOR) telah menetapkan rupee pada 14.346 rupee terhadap dolar atau naik dari 14.334 rupee ke dolar AS. Hari ini, kisaran rupee dari 14.324 rupee ke 14.340 rupee terhadap dolar.

Hari ini, mata uang utama Asia cenderung menguat terhadap dolar AS. Won Korea Selatan naik 0,06%, yen Jepang 0,2%, peso Filipina 0,26% dan rupee India 0,31%.

Sementara itu, dolar Singapura melemah 0,04% terhadap dolar AS, baht Thailand 0,05%, dan ringgit Malaysia 0,12%. Di sisi lain, yuan Tiongkok dan dolar Hong Kong tidak bergerak terhadap dolar AS.

Pada saat yang sama, negara-negara maju cenderung melemah terhadap dolar AS, seperti euro 0,2%, dolar Australia 0,14%, dan pound sterling 0,08%.

Deddy Yusuf Siregar, seorang analis untuk Asia Tradepoint Futures, mengatakan rupee itu terlihat jelas dibandingkan kemarin. Menurutnya, rupiah memasuki zona konsolidasi sejak pekan lalu, karena pelaku pasar masih menunggu pengumuman suku bunga di Amerika Serikat dan Indonesia.

Menurutnya, pelaku pasar berharap The Fed akan memiliki peluang bagus untuk menurunkan suku bunga acuannya setelah melemahnya data ekonomi makro di Amerika Serikat. Namun, alih-alih menunggu penurunan suku bunga, pelaku pasar menunggu Gubernur Fed Jerome Powell untuk menyampaikan kisah ekonomi.

“Jadi, pada hari-hari menjelang FOMC, rupiah masih bisa dalam periode konsolidasi, dari Rp 14.200 menjadi Rp 14.400 untuk satu dolar AS,” Deddy mengatakan kepada CNNIndonesia.com pada Selasa (18/18) 06).

Pada saat yang sama, pelaku pasar juga menunggu Dewan Pengatur BI untuk menentukan suku bunga acuan untuk 7 hari repo rate BI (7DRRR). Meskipun pelaku pasar telah menebak bahwa otoritas moneter masih akan menetapkan suku bunga acuan pada 6% bulan ini.

“Dalam waktu dekat, kedua faktor ini akan menjadi sentimen para pelaku pasar. Menambahkan perasaan eksternal seperti perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina di masa depan Inggris setelah kepergian Theresa May” , jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *