OJK Ragu Akan Dana Investor Kampoeng Kurma Kembali 100%

OJK Ragu Akan Dana Investor Kampoeng Kurma Kembali 100%

Satgas Waspada Investasi OJK memprediksi duit investasi korban PT Kampoeng Kurma mungkin besar tidak dapat kembali 100 persen. Alasannya bagi mereka, manajemen Kampoeng Kurma mungkin besar sudah memakai duit hasil investasi nasabah.

Pimpinan Satgas Waspada Investasi Tongam L Tobing berkata ditaksir soal konsumsi duit tersebut didasarkan pada permasalahan tadinya, semacam Koperasi Simpan Pinjam( KSP) Pandawa Mandiri Group( PMG) serta First Travel. Dikala itu, sebab duit telah dipakai, kesimpulannya nasabah cuma sukses memperoleh dekat 10 persen- 15 persen investasi mereka.

” Terus menjadi gampang ia bisa duit terus menjadi gampang ia keluarkan duit,” ucapnya, Senin( 18/ 11).

Dikala ini, lanjutnya, permasalahan Kampoeng Kurma tersebut sudah ditangani oleh Bareskrim Polri. Karenanya, dia memohon para korban investasi bodong Kampoeng Kurma lekas melapor kepada pihak berwajib sehingga proses hukumnya kian kilat.

” Satgas Waspada Investasi pula melaksanakan aksi pengumuman kepada warga setelah itu kami memohon kepada Kominfo buat blokir web web serta aplikasinya,” imbuhnya.

Modus investasi bodong Kampoeng Kurma merupakan menjual kavling seluas 400 m persegi hingga 500 m persegi yang ditanami 5 tumbuhan kurma. Sehabis 4- 5 tahun nasabah diimingi hasil investasi sebesar Rp175 juta per tahun sepanjang 100 tahun.

Dia melaporkan tawaran investasi tersebut tidak rasional, sehingga grupnya memutuskan buat menghentikan aktivitas bisnis Kampoeng Kurma semenjak 28 April 2019.

Dia mengimbau warga buat tetap berjaga- jaga dan tidak gampang tergiur dengan tawaran investasi bodong.

” Jika terdapat penawaran investasi ilegal ataupun sangat menggiurkan kenali dahulu 2 L, ialah sah serta logis,” ucapnya.

Irvan Nasrun, salah satu investor di Kampoeng Kurma, melaporkan industri menawarkan investasi kepadanya dekat akhir 2016 serta dini 2017. Tergiur dengan janji manis itu, dia membeli 3 kavling senilai Rp99 juta serta 4 kavling dengan harga Rp30 juta.

Sayang, sampai detik ini Irvan belum memegang Akta Jual Beli( AJB) atas kavling yang dia beli pada 2017 kemudian. Tumbuhan kurma serta kolam ikan lele yang dijanjikan juga tidak nampak di kavling yang dia beli.

” AJB hingga saat ini belum terdapat, apalagi banyak yang lokasinya tidak cocok dengan perjanjian. Misalnya beli di mana, jadi di mana. Terdapat yang beli di Jonggol jadinya di Cirebon,” papar ia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *