Ratna dan Dhani Akan Tetap Kritis Terhadap Jokowi dan Lebih Mengarah ke Rezim

Ratna dan Dhani Akan Tetap Kritis Terhadap Jokowi dan Lebih Mengarah ke Rezim

2 aktivis yang kritis terhadap Presiden Joko Widodo, Ratna Sarumpaet serta Ahmad Dhani, telah menghisap hawa leluasa sehabis menempuh masa hukumannya. Keduanya juga dinilai hendak senantiasa kritis tetapi dalam keadaan terbatas sebab peran Prabowo Subianto di kabinet.

Ratna dipenjara sebab teruji menyebarkan kabar bohong alias hoaks. Dia didiagnosa 2 tahun penjara. Tetapi, Departemen Hukum serta HAM membagikan pembebasan bersyarat, sehingga Ratna leluasa lebih dini pada minggu kemudian.

Dhani dibui sebab melaksanakan ujaran kebencian lewat account twitter,@AHMADDHANIPRAST. Dhani didiagnosa 1, 5 tahun penjara. Dia mengajukan banding serta hukumannya menurun jadi 1 tahun.

Masih tidak puas, Dhani mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung( MA). Tetapi, MA menolak kasasi Dhani. MA menguatkan vonis di tingkatan banding dengan senantiasa menghukum satu tahun penjara untuk Dhani. Dia juga keluar tahanan pada Senin( 30/ 12).

Walaupun sudah leluasa, Dhani masih wajib menempuh pidana percobaan sepanjang 6 bulan terpaut permasalahan ujaran idiot. Sepanjang menempuh pidana percobaan, dia tidak boleh mengulangi perbuatannya serta diawasi pihak kejaksaan.

Ratna serta Dhani ialah pendukung serta bagian regu kampanye Pimpinan Universal Partai Gerindra Prabowo Subianto dikala pemilihan presiden( Pilpres) 2019. Keduanya juga menempuh proses hukum dikala masa kampanye acara demokrasi 5 tahunan itu berlangsung.

Pilpres 2019 telah usai dengan kekalahan Prabowo- Sandiaga Uno. Tetapi, Prabowo saat ini berganti haluan menunjang Jokowi serta masuk ke jajaran kabinet bagaikan Menteri Pertahanan. Tidak hanya Prabowo, Wakil Pimpinan Universal Gerindra Edhy Prabowo pula masuk dalam pemerintahan jadi Menteri Kelautan serta Perikanan.

Direktur Lingkar Madani( 5) Ray Rangkuti memperhitungkan Ratna serta Dhani mungkin besar hendak senantiasa kritis terhadap pemerintahan Presiden Joko Widodo sekalipun Prabowo masuk bundaran kekuasaan. Walaupun, Ratna serta Dhani tidak hendak mengkritik sekeras tadinya.

” Aku kira iya[tetap melontarkan kritik], tetapi tidak hendak sedrastis serta sedramatis dahulu,” kata ia kepada CNNIndonesia. com, Senin( 30/ 12).

Terlebih, lanjutnya, mereka berdua baru berakhir menempuh hukuman pidana serta Prabowo yang dahulu mereka dukung sudah masuk dalam pemerintahan.

” Jadi jika dahulu nyaris seluruh perihal mereka berbeda, jika bisa jadi saat ini kadarnya 50 persen lah( dalam mengkritik).

” Dahulu konteksnya politik betul, seluruh kesempatan dijadikan buat mendelegitimasi Pak Jokowi, menaikan citra Pak Prabowo. Saat ini enggak dapat lagi begitu pula,” ucapnya.

Ray memprediksi Ratna serta Dhani hendak mengkritik Jokowi sebab alibi objektif, bukan hanya perbandingan politik semacam Pilpres. Apalagi baginya, Prabowo juga dapat jadi target kritik keduanya sebab bagian dari kekuasaan.

” Walaupun Prabowo terletak di pemerintahan, Prabowo merupakan bagian yang mereka wajib kritik,” tuturnya.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review Ujang Komarudin memperhitungkan Dhani serta Ratna tidak hendak kritis terhadap rezim Jokowi sebab terikat koalisi Prabowo- Jokowi.

” Tidak hendak banyak mengkritisi kebijakan- kebijakan Jokowi yang salah arah nanti. Keduanya terikat oleh konvensi Prabowo serta Jokowi,” kata Ujang kepada CNNIndonesia. com.

Ujang berkata konstelasi politik nasional telah berganti. Prabowo serta Gerindra telah masuk dalam pemerintahan Jokowi. Baginya, Ratna serta Dhani hendak berpikir ulang bila mengkritik keras Jokowi semacam saat sebelum Pilpres 2019.

Ujang lalu mencontohkan Fadli Zon yang telah tidak lagi diseleksi Gerindra bagaikan wakil pimpinan DPR periode 2019- 2024. Dia menyebut Fadli tidak ditempatkan bagaikan wakil pimpinan DPR supaya tidak mengkritisi pemerintahan Jokowi.

Lebih lanjut, Ujang melaporkan Ratna serta Dhani dapat saja hendak menunjang program Jokowi sebab Prabowo terletak dalam pemerintahan. Baginya, posisi Prabowo yang terletak di bundaran pemerintahan membuat Ratna serta Dhani jadi diam.

” Itu konsekuensi berkoalisi. Masa masuk di pemerintahan kritik pemerintah sendiri. Maksudnya mengkritik diri sendiri. Masa jeruk makan jeruk,” tuturnya.

Ratna sendiri melaporkan bakal terus mengkritik pemerintahan Jokowi usai leluasa. Dia berharap ia tidak lagi masuk penjara sebab kritik- kritik yang hendak disampaikannya.

” Itu( mengkritik) kan tabiat aku, jadi aku rasa mudah- mudahan Pak Jokowi pula kapok memenjarakan aku,” kata Ratna.

Ratna berkata kritik tidak sepantasnya dibalas dengan proses hukum terlebih dipenjara. Terlebih dirinya telah berumur uzur.

” Aku pula orang tua, masa jika aku mengkritik terus aku dimarahin lagi, enggak boleh begitu dong,” tambahnya.

Ratna merasa bagaikan aktivis, tugas utamanya memanglah berikan kritik. Karena kritik bagi ia tidak ubahnya wujud rasa sayang dirinya terhadap Jokowi maupun bangsa Indonesia.

” Jika dia( Jokowi) enggak aku kritik, berarti aku tidak sayang sama ia ataupun tidak sayang sama bangsa ini,” katanya.

Ratna enggan berpendapat lebih menimpa hijrahnya Prabowo Subianto ke pemerintahan Jokowi usai Pilpres 2019 kemudian. Dia memohon warga menunggu apa yang hendak dicoba Prabowo serta serta berikan peluang kepadanya.

Sedangkan Dhani sendiri menegaskan dirinya hendak senantiasa terletak di dunia politik. Tetapi tidak dengan masuk dalam jajaran pemerintahan Jokowi semacam Prabowo.

Walaupun begitu, Dhani melaporkan hendak terus menunjang Prabowo bagaikan calon presiden di masa mendatang.

” Langkah ke depan merupakan aku senantiasa dalam dunia politik menunjang Ayah Prabowo jadi presiden di masa depan,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *