Warga Sulsel Mengikat Rumah ke Pohon Agar Tidak Terbawa Banji

Kasus PositifMeninggal DuniaSembuh
Indonesia5794930
Seluruh Dunia341,52614,74899,040
Data per 23 Maret 2020 pukul 15.45 WIB. Sumber: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, WHO.

Warga Sulsel Mengikat Rumah ke Pohon Agar Tidak Terbawa Banjir

Demi mengestimasi supaya tidak terseret banjir yang airnya terus menjadi meninggi, Masyarakat Desa Bondra, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat mengikat rumahnya di tumbuhan.

Bersumber pada pantauan, permukiman masyarakat di desa tersebut terendam banjir sampai setinggi 50- 60 centimeter ataupun dekat besar lutut orang berusia.

” Masyarakat mengikat rumahnya di tumbuhan supaya tidak terseret air banjir kala Sungai Mapilli tidak terus menjadi meluap serta arusnya terus menjadi kencang,” kata Alif, salah seseorang masyarakat setempat semacam dikutip Antara kemarin.

Ia berkata akses jalur di desanya telah tidak nampak sebab terendam banjir, luapan air sungai tersebut.

Seseorang masyarakat setempat yang lain, Yusrang, berkata, tidak hanya Desa Bondra, Desa Segerang di dekat Sungai Mapilli pula terendam air.

Beberapa masyarakat setempat yang lain, pula nampak panik sebab banjir dari hulu sungai itu terus terjalin. Sepanjang 2 hari terakhir, hujan turun di daerah Polewali Mandar itu.

Ia berkata warga pula sudah memantau keadaan Bendungan Sekka Sekka yang terletak di hulu Sungai Mapilli, sebab air di bendungan itu terus naik.

” Sebagian warga yang sudah merasa gelisah dengan terdapatnya cuaca ekstrem semenjak kemarin( 11/ 1) sampai sore tadi memantau Bendungan Sekka Sekka yang dalam status siaga 2,” katanya.

Dia berkata ketinggian air di Bendungan Sekka Sekka 180- 185 mercu itu masih dalam keadaan siaga 2.

” Masyarakat senantiasa waspada sebab bila air sudah terletak pada ketinggian 200 mercu hingga keadaan siaga satu, mudah- mudahan hujan di hulu bisa menyudahi,” katanya.

Tidak hanya itu, dekat 50 km dari Polewali Mandar, banjir yang terjalin akibat hujan deras diiringi angin kencang menyerang beberapa daerah di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.

Pemantauan di Majene, Minggu, banjir merendam beberapa sarana pemerintah dan sarana universal, ataupun sekolah serta kampus di kota Majene.

Tidak hanya itu, banjir pula menggenangi pemukiman masyarakat setempat sampai air setinggi lutut orang berusia.

Banjir pula pernah merendam jalan Trans Sulawesi yang menghubungkan Provinsi Sulsel serta Sulbar yang melintas di Kota Majene.

Hujan deras yang menyerang Majene sepanjang 2 hari terakhir tersebut, membuat roboh talud serta pagar Kantor Majelis hukum Agama Kabupaten Majene ke ke jalur.

Tidak hanya itu, angin kencang yang tiba bertepatan dengan hujan deras pula membuat pepohonan di jalan Trans Sulawesi Kabupaten Majene tumbang ke jalur.

Bupati Majene Fahmi Massiara mengantarkan fenomena angin Monsun Australia yang diprediksi Tubuh Meteorologi, Klimatologi, serta Geofisika( BMKG) jadi pemicu musibah itu terjalin di Majene.

Salah seseorang masyarakat Majene, Syam, berkata bukan cuma warga di daerah perkotaan yang diterjang banjir diiringi angin kencang.

Tetapi, lanjutnya, beberapa rumah masyarakat yang terdapat di pesisir tepi laut di daerah Kabupaten Majene pula terserang akibat gelombang pasang sehingga memerlukan dorongan pemerintah.

” Telah 10 unit rumah warga nelayan di daerah Dusun Sumakuyu, Desa Onang, Kecamatan Tubo Sendana yang dirusak gelombang pasang,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *